About

Sabtu, 27 Mei 2017

Review Novel : The Chronicles of Ghazi 3 : The Howling of Wolf, The Eyesight of Eagle

Penulis             : Felix Y. Siauw
Tahun Terbit    : 2015
Genre              : Fiksi Sejarah Islam
Ukuran            : 21,5 x 14, 7 cm
Penerbit           : Alfatih Press
ISBN               : 978 - 602 - 719 - 861 - 6

Kawan-kawan, tolong jangan terkecoh sama judul novel ini. Ini produk Indonesia kok, bukan luar negeri. Jadi jangan khawatir.

Oh iya, jadi kali ini aku bikin review novel tentang seri ketiga dari The Chronicles of Ghazi. Penulisnya kebetulan seorang ustadz yang cukup terkenal di Indonesia, yaitu Ustadz Felix Y. Siauw. Terbitnya udah agak lama dan baru sempat aku beli tahun lalu.

Sampul novel ini emang menarik, tapi bukan itu yang bikin aku termotivasi untuk beli novel ini. Alasanku beli novel ini adalah karena isi sinopsis di sampul belakang yang bagian bawah, yaitu “Di tempat lain, VLAD DRACULA tenggelam dalam dendamnya. Dia menghimpun kekuatan gelap yang menjadikannya kejam dan sadis lewat ritual-ritual mengerikan. Dia berguru kepada setan dengan darah dan kengerian. Dia akan menjadi lawan yang sepadan.”

Mungkin kalian penasaran kenapa aku tertarik untuk mengetahui lebih lanjut soal Vlad Dracula ini. Tapi ceritanya panjang. Sekarang kita fokus dulu ke review novelnya.

Novel ini menceritakan tentang rencana penaklukan Konstantinopel oleh Muhammad Al Fatih, anak dari Sultan Murad yang merupakan pemimpin Turki Utsmani. Muhammad Al Fatih merencanakan penaklukan ini bersama dengan Zaghanos, seorang mualaf dari Yunani, dan Radu yang juga mualaf. Mereka mencoba untuk menuntaskan janji Rasulullah saw. yang (kira-kira) berbunyi, “Suatu hari nanti Konstantinopel pasti akan ditaklukkan oleh pasukan muslim terkuat”. Tiga orang ini mencoba mencari informasi untuk menembus dinding Konstantinopel yang amat tangguh dan pedang terkuat yang pernah ada.

Sultan Murad, di lain pihak, juga mencoba untuk memperluas daerah kekuasaan Turki Utsmani dengan harapan agar perjuangan anaknya menaklukan Konstantinopel bisa berjalan lebih cepat. Sultan Murad berhadapan dengan beberapa pemimpin kekuasaan kafir yang menolak untuk masuk Islam dan berhasil memenangkannya. Ada pula beberapa pemimpin itu yang memutuskan untuk berdamai dengan Turki Utsmani agar mereka tak diperangi, seperti halnya tokoh Sigismund yang merupakan pemimpin dari negara yang menganut ajaran Nasrani.

Dan tentang Vlad Dracula, dia ini sebenarnya merupakan kakak dari Radu. Namun dia tidak terima dengan kenyataan bahwa Radu memilih untuk menjadi seorang muslim. Vlad pun kabur dari asrama Mekteb i Harbiye (Akademi Militer) Turki Utsmani, yang sebelumnya merupakan tempat tinggal Vlad dan Radu. Vlad yang kehilangan arah dan tujuan pun memutuskan untuk membalas dendam atas semua rasa sakit di hatinya dengan mengikuti seorang gadis kecil yang membuatnya menjadi seorang anggota dari penyembah setan, yang dipimpin oleh seorang wanita yang disebut ‘Sang Dewi’.

Jadi yah, di novel ini kita akan menemukan cukup banyak istilah yang menggunakan bahasa Turki, salah satunya udah aku sebutkan di atas. Kita juga jadi cukup mengenali negara Islam dan juga Eropa pada zaman dulu (<- iya lah genre-nya aja sejarah). Sampul novel ini termasuk bagus karena selain warnanya enak dipandang (terutama karena pake warna kesukaanku, biru dan hitam), sampulnya juga nggak akan cepat kotor karena bahannya yang nggak mudah kotor karena keringat dari tangan. Di beberapa bagian novel ini juga terdapat ilustrasi yang menarik yang dibuat oleh Handri Satria Handjaya. Dan pembatas buku ini juga nggak biasa, karena langsung menyatu dengan sampul bukunya. Kan biasanya pembatas buku itu dibuat terpisah (sendiri, nggak menggabung sama sampul).

Tapi layaknya novel-novel lain, novel ini pun punya kelemahan tersendiri. Ada sih bagian yang menurutku agak mengganggu dan kurang sreg, contohnya pada halaman 55 yang berbunyi “Derap langkah para santo diiringi oleh kidung-kidung kudus yang seolah-olah berasal dari surga. Padahal surga tidak pernah mengajarkan kidung-kidung kudus itu. Orang-orang yang disucikan sedang melangkah melintasi bumi. Padahal surga tidak pernah mensucikan orang-orang itu.” Jadi tuh semacam pengulangan kata ‘padahal’ yang bikin aku merasa kurang nyaman pas baca buku ini. Ada juga yang bikin kita jadi merasa curiga dan penasaran dengan apa yang akan terjadi, tapi rasanya nyebelin karena hal itu diulang beberapa kali. Contohnya “... Saking gembiranya, dia segera pergi dan tidak pernah menoleh lagi ke belakang. Tak ada yang bisa menduga, apa yang akan dilakukannya di masa depan.” Di beberapa bagian cerita juga ada kesalahan penulisan seperti huruf yang seharusnya kapital malah tidak menjadi kapital. Aku juga merasa bahasanya sedikit bertele-tele dll. Tapi yang paling bikin aku kecewa adalah, cerita tentang Vlad Dracula yang menjadi kuat malah sama sekali nggak aku temukan, bahkan sampai bagian akhir. Padahal aku udah berharap pengin tahu tentang kekuatan si Vlad ini. Yang baru ada paling cuma saat dia mulai ikut ritual penyembahan setan itu, dan bagian itu menggantung. Yah mungkin bagian itu disimpan untuk buku keempat, atau kelima.

Intinya, dari segi alur sejarah, novel ini cukup menarik, walaupun ada beberapa kelemahan.


Oke, sekian review novel dari aku. Aku mohon maaf kalau caraku menyampaikan review ini kurang berkenan. Aku juga mohon kritik dan saran dari kalian semua. Dan terima kasih telah membaca review ini!

0 komentar:

Posting Komentar