Penulis : Walentina Waluyanti de Jonge.
Ukuran : 150 x 230 mm.
Ketebalan : 209 halaman.
Genre : Non Fiksi, Sejarah.
ISBN : 978-602-9431-29-2.
Ini untuk pertama kalinya aku me-review buku non fiksi, jadi bingung
mau mulai dari mana. Tapi ya udah deh, aku tulis apa adanya.
Baiklah,
kali ini aku akan membahas sebuah buku ber-genre sejarah yang berjudul “Tembak
Bung Karno, Rugi 30 Sen; Sisi Lain Putra Sang Fajar yang Tak Terungkap” <-
panjang bener nih judul. Pada buku ini terdapat 3 bab dan tiap bab memiliki
beberapa subbab. 3 bab utama berjudul: Bab I Sang Fajar Terbit, Bab II Sang
Fajar Bersinar, Bab III Sang Fajar Terbenam.
Bab pertama
dari buku ini, yaitu ‘Sang Fajar Terbit’, menceritakan tentang masa-masa Bung Karno
saat masih muda. Beliau pernah bersekolah di Hogere Burger School (HBS)
Surabaya dan dikenal sebagai pembicara terbaik di sekolahnya. Bung Karno juga
bukan hanya seorang pemikir dan negarawan, melainkan juga dikenal sebagai
seniman. Kesenimanan Bung Karno tampak dalam bidang teater dan lukis. Beliau
mulai menulis naskah drama saar dibuan di Pulau Bunga di Ende, Flores.
Bab kedua
dari buku ini berjudul ‘Sang Fajar Bersinar’. Pada bab ini, diceritakan bahwa
Bung Karno tidak menyukai musik rock and roll maupun gaya rambut yang mirip
dengan personel The Beatles karena beliau berpikir bahwa musik dan gaya anak
band semacam itu disuntikkan oleh imperialisme kapitalis. Bagi Bung Karno, para
imperialis hanya ingin menghancurkan Indonesia dengan segala cara, termasuk
melalui budaya. Bab ini juga menceritakan tentang perjuangan Bung Karno
mengambil kembali Irian Barat dari tangan penjajah Belanda, dan juga cerita
lainnya. Namun yang paling utama adalah cerita mengenai Westerling dan candaan
bernada melecehkan yang tertera pada sampul belakang, yaitu “Orang Belanda itu
perhitungan sekali. Satu peluru harganya 35 sen. Sedangkan harga Sukarno tak
lebih dari 5 sen. Jadi rugi 30 sen. Kerugian yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.”
Westerling juga diceritakan sebagai sosok yang membenci Bung Karno, yang
menanamkan gerakan pemberontakan DI-TII, juga seseorang yang memiliki kekejaman
dan kebengisan. Meski begitu, dia tetap kebal dari hukum! Mengapa hal itu bisa
terjadi? Itu dikarenakan ada seseorang yang sengaja mendukungnya dari belakang,
dan orang itulah dalang sebenarnya dari kudeta yang telah dilakukan oleh Westerling. Dan
orang itu adalah Pangeran Benhard, yang berkeinginan menjadi Vice-Roi.
Dan yang
paling membuat aku sedih adalah bab terakhir, yang berjudul ‘Sang Fajar
Terbenam’. Pada bab ini diceritakan bahwa sebenarnya Bung Karno tidak
serta-merta memberikan Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret) kepada Pak
Soeharto, melainkan karena Pak Soeharto sendiri yang mendesak beliau untuk
memberikannya. Lalu, masa-masa kejatuhan Bung Karno pun dimulai. Dan Supersemar
bukanlah surat pengalihan kekuasaan, melainkan surat PERINTAH PENGAMANAN.
Naskah Supersemar pun diragukan keasliannya. Orasi Bung Karno tak lagi
didengar, beliau lengser dari posisinya sebagai presiden, dan pada ulang tahun
terakhirnya pun, beliau sudah tak bisa bangkit dari kasurnya. Sebelum beliau
meninggal, ia sempat bertemu dan berbicara dengan Bung Hatta, rekan
seperjuangannya bertahun-tahun lalu.
Memang ada cerita
lain yang dituliskan pada buku ini, tapi kalau ditulis semuanya, nanti aku jadi
capek sendiri.
Oke, kita
mulai ke bagian komentar, positif dan negatifnya. Dari sisi positif, ada yang
tertera di sampul belakang buku ini dan aku pun mengakuinya, yaitu gaya
penulisannya ringan, mudah dicerna, dan jauh dari kesan “berat”. Hal inilah
yang membuat aku menjadi semakin terhanyut dan penasaran dengan isi buku ini
(aku sendiri agak lupa, tapi kalau ngga salah, dulu mungkin aku pernah begadang
semalaman cuma buat mengkhatamkan buku ini. Habis asik sih, kayak baca novel
fantasi). Bukunya tidak terlalu tebal jadi ngga terlihat menakutkan (kecuali
bagi orang yang alergi dengan sejarah). Ada banyak referensi yang digunakan
buku ini, yang membuat buku ini jadi meyakinkan. Dan adanya kertas kuning dan
juga foto hitam putih di buku ini dapat membuat siapapun merasa tenggelam ke
masa lalu, seolah-olah kita bisa melihat apa yang dulu pernah terjadi.
Sisi
negatifnya? Entah bisa dibilang negatif atau nggak, tapi judulnya terlalu
panjang. Capek nulisnya. Ya paling itu aja.
Intinya,
buku ini sangat aku rekomendasikan untuk kalian yang ingin tahu tentang Bung
Karno lebih dalam lagi. Tapi, kita tetap harus melihat beliau dengan pandangan
yang obyektif, tidak berlebihan dalam memuji ataupun menjelekkannya. Kita boleh
tak setuju dengan beberapa keputusannya yang dinilai kurang baik, tapi jangan
sampai kita terlalu membencinya. Kita juga tak perlu terlalu fanatik untuk
memujinya. Karena toh, Bung Karno tetaplah manusia biasa yang memiliki
kelemahan.
Sekian dulu
review buku dari aku. Jika terdapat kesalahan ataupun kekurangan kata, silakan
beri kritik dan saran pada review ini. Terima kasih telah membaca!








0 komentar:
Posting Komentar