About

Sabtu, 27 Mei 2017

Review Buku : Tembak Bung Karno, Rugi 30 Sen; Sisi Lain Putra Sang Fajar yang Tak Terungkap

Penulis                 : Walentina Waluyanti de Jonge.
Ukuran                 : 150 x 230 mm.
Ketebalan             : 209 halaman.
Genre                   : Non Fiksi, Sejarah.
ISBN                    : 978-602-9431-29-2.

Ini untuk pertama kalinya aku me-review buku non fiksi, jadi bingung mau mulai dari mana. Tapi ya udah deh, aku tulis apa adanya.

Baiklah, kali ini aku akan membahas sebuah buku ber-genre sejarah yang berjudul “Tembak Bung Karno, Rugi 30 Sen; Sisi Lain Putra Sang Fajar yang Tak Terungkap” <- panjang bener nih judul. Pada buku ini terdapat 3 bab dan tiap bab memiliki beberapa subbab. 3 bab utama berjudul: Bab I Sang Fajar Terbit, Bab II Sang Fajar Bersinar, Bab III Sang Fajar Terbenam.

Bab pertama dari buku ini, yaitu ‘Sang Fajar Terbit’, menceritakan tentang masa-masa Bung Karno saat masih muda. Beliau pernah bersekolah di Hogere Burger School (HBS) Surabaya dan dikenal sebagai pembicara terbaik di sekolahnya. Bung Karno juga bukan hanya seorang pemikir dan negarawan, melainkan juga dikenal sebagai seniman. Kesenimanan Bung Karno tampak dalam bidang teater dan lukis. Beliau mulai menulis naskah drama saar dibuan di Pulau Bunga di Ende, Flores.

Bab kedua dari buku ini berjudul ‘Sang Fajar Bersinar’. Pada bab ini, diceritakan bahwa Bung Karno tidak menyukai musik rock and roll maupun gaya rambut yang mirip dengan personel The Beatles karena beliau berpikir bahwa musik dan gaya anak band semacam itu disuntikkan oleh imperialisme kapitalis. Bagi Bung Karno, para imperialis hanya ingin menghancurkan Indonesia dengan segala cara, termasuk melalui budaya. Bab ini juga menceritakan tentang perjuangan Bung Karno mengambil kembali Irian Barat dari tangan penjajah Belanda, dan juga cerita lainnya. Namun yang paling utama adalah cerita mengenai Westerling dan candaan bernada melecehkan yang tertera pada sampul belakang, yaitu “Orang Belanda itu perhitungan sekali. Satu peluru harganya 35 sen. Sedangkan harga Sukarno tak lebih dari 5 sen. Jadi rugi 30 sen. Kerugian yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.” Westerling juga diceritakan sebagai sosok yang membenci Bung Karno, yang menanamkan gerakan pemberontakan DI-TII, juga seseorang yang memiliki kekejaman dan kebengisan. Meski begitu, dia tetap kebal dari hukum! Mengapa hal itu bisa terjadi? Itu dikarenakan ada seseorang yang sengaja mendukungnya dari belakang, dan orang itulah dalang sebenarnya dari  kudeta yang telah dilakukan oleh Westerling. Dan orang itu adalah Pangeran Benhard, yang berkeinginan menjadi Vice-Roi.

Dan yang paling membuat aku sedih adalah bab terakhir, yang berjudul ‘Sang Fajar Terbenam’. Pada bab ini diceritakan bahwa sebenarnya Bung Karno tidak serta-merta memberikan Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret) kepada Pak Soeharto, melainkan karena Pak Soeharto sendiri yang mendesak beliau untuk memberikannya. Lalu, masa-masa kejatuhan Bung Karno pun dimulai. Dan Supersemar bukanlah surat pengalihan kekuasaan, melainkan surat PERINTAH PENGAMANAN. Naskah Supersemar pun diragukan keasliannya. Orasi Bung Karno tak lagi didengar, beliau lengser dari posisinya sebagai presiden, dan pada ulang tahun terakhirnya pun, beliau sudah tak bisa bangkit dari kasurnya. Sebelum beliau meninggal, ia sempat bertemu dan berbicara dengan Bung Hatta, rekan seperjuangannya bertahun-tahun lalu.

Memang ada cerita lain yang dituliskan pada buku ini, tapi kalau ditulis semuanya, nanti aku jadi capek sendiri.

Oke, kita mulai ke bagian komentar, positif dan negatifnya. Dari sisi positif, ada yang tertera di sampul belakang buku ini dan aku pun mengakuinya, yaitu gaya penulisannya ringan, mudah dicerna, dan jauh dari kesan “berat”. Hal inilah yang membuat aku menjadi semakin terhanyut dan penasaran dengan isi buku ini (aku sendiri agak lupa, tapi kalau ngga salah, dulu mungkin aku pernah begadang semalaman cuma buat mengkhatamkan buku ini. Habis asik sih, kayak baca novel fantasi). Bukunya tidak terlalu tebal jadi ngga terlihat menakutkan (kecuali bagi orang yang alergi dengan sejarah). Ada banyak referensi yang digunakan buku ini, yang membuat buku ini jadi meyakinkan. Dan adanya kertas kuning dan juga foto hitam putih di buku ini dapat membuat siapapun merasa tenggelam ke masa lalu, seolah-olah kita bisa melihat apa yang dulu pernah terjadi.

Sisi negatifnya? Entah bisa dibilang negatif atau nggak, tapi judulnya terlalu panjang. Capek nulisnya. Ya paling itu aja.

Intinya, buku ini sangat aku rekomendasikan untuk kalian yang ingin tahu tentang Bung Karno lebih dalam lagi. Tapi, kita tetap harus melihat beliau dengan pandangan yang obyektif, tidak berlebihan dalam memuji ataupun menjelekkannya. Kita boleh tak setuju dengan beberapa keputusannya yang dinilai kurang baik, tapi jangan sampai kita terlalu membencinya. Kita juga tak perlu terlalu fanatik untuk memujinya. Karena toh, Bung Karno tetaplah manusia biasa yang memiliki kelemahan.


Sekian dulu review buku dari aku. Jika terdapat kesalahan ataupun kekurangan kata, silakan beri kritik dan saran pada review ini. Terima kasih telah membaca!

0 komentar:

Posting Komentar