About

Selasa, 02 Mei 2017

Review Buku Sebelas Patriot dan Trailer Film Laskar Pelangi

Sebelas Patriot
Andrea Hirata
Ukuran : 20,4 x 13,1 cm
Tebal : 112 halaman
Terbit : Juni 2011
ISBN : 978-602-8811-52-1
Genre : Olahraga
Baiklah, kali ini saya akan membahas salah satu novel yang ditulis oleh Andrea Hirata ini yang berjudul ‘Sebelas Patriot’.
Cerita dalam novel ini dimulai ketika Ikal menemukan sebuah foto yang menampilkan gambar seorang laki-laki yang sedang memegang piala. Pada awalnya dia merasa biasa saja dengan foto itu, tapi setelah ibunya melarangnya untuk melihat foto itu lagi, rasa penasaran Ikal pun bangkit. Ikal mencoba untuk mencari tahu apakah ada seseorang yang mengetahui siapa yang ada di foto itu. Dia pun bertemu dengan sang pemburu tua, salah satu sahabat seangkatan ayahnya. Ketika Ikal menanyakan siapa yang ada dalam foto itu, sang pemburu pun terkejut dan mengatakan bahwa orang itu adalah ayah dari Ikal sendiri. Sang pemburu pun berkisah bahwa dulunya, ayahnya adalah salah satu dari 3 saudara yang sangat handal dalam permainan sepak bola. Bahkan, ayahnya adalah pemain sepak bola sayap kiri yang berbakat luar biasa. Namun sayangnya, pada usianya yang ke-17, ayahnya dikurung dan pulang dengan tempurung kaki kiri yang hancur sehingga membuatnya tak bisa bermain sepak bola lagi. Sejak itu, Ikal bertekad akan menjadi pemain sayap kiri seperti ayahnya dan menjadi pemain PSSI. Sayangnya, Ikal tidak terpilih.
Cerita berlanjut saat Andrea sedang menempuh pendidikan di Universitas Sorbonne, Perancis. Waktu itu musim panas, dan Andrea ingin pergi ke Madrid untuk membeli kaus klub sepak bola Real Madrid bertanda tangan Luis Figo. Dia membelinya untuk ayahnya yang menggemari salah satu pemain bola itu. Saat Andrea hendak membelinya di toko resmi cendera mata Real Madrid, dia pun bertemu dengan seorang perempuan bernama Adriana. Ketika Andrea hendak membeli kaus itu, Adriana berkata bahwa harga kaus itu adalah 250 euro. Mengetahui hal itu, Andrea pun meminta Adriana bahwa dia akan kembali lagi untuk membeli kaus itu.
Setelah itu, Andrea memutuskan untuk mencari pekerjaan demi mendapatkan uang lebih. Dia bekerja sebagai pembantu umum untuk latihan klub junior Barca, menjadi tukang cat dan angkat-angkat perabot pada siang hari, dan kadang dia ikut mengamen bersama para backpacker lainnya di Placa de Catalunya. Dan ketika uangnya berhasil terkumpul sebanyak 250 euro, Andrea pun kembali ke Madrid untuk membeli kaus bertanda tangan Luis Figo. Sesampainya di sana, Andrea tak menemukan kaus yang dia cari dan dia pun merasa gagal. Namun kemudian, dia melihat Adriana di depannya dan perempuan itu mengeluarkan kaus Luis Figo dari sebuah laci meja. Andrea pun merasa sangat senang dan dia mengucapkan terima kasih berkali-kali.
Berikutnya, Andrea diajak Adriana untuk mengobrol di suatu cafe. Di sana, Andrea mengatakan bahwa Real Madrid adalah klub favoritnya yang kedua, sedangkan yang nomor satu adalah PSSI, tim nasional Indonesia. Walaupun jarang memenangkan pertandingan, Andrea tetap menggemari PSSI, karena baginya menggemari tim sepak bola negeri sendiri adalah 10% mencintai sepak bola dan 90% mencintai Tanah Air. Bahkan saat mereka berdua menonton pertandingan dan melihat Real Madrid mencetak gol, Andrea berteriak “Indonesia! Indonesia!” ketika penonton lainnya berteriak “Real! Real!”
Nah, sekarang saatnya bagi saya untuk menyebutkan mengenai kelebihan dan kelemahan pada novel ini. Pertama, buku ini tidak terlalu tebal sehingga bisa di-khatamkan dengan cepat. Kedua, alur ceritanya menggunakan alur maju sehingga mudah dipahami. Ketiga, tentunya novel ini membuat saya mengetahui permainan sepak bola di Indonesia di masa lalu (sedikit info, saya cukup menyukai sejarah, meskipun saya adalah anak IPA). Dan dulu, saat saya membeli novel ini, di dalamnya ada sebuah CD yang berisikan 3 macam lagu untuk suporter olahraga Indonesia, khususnya untuk suporter PSSI.
Kelemahannya? Hmm, apa ya? Mungkin terlalu bagus? Ah entahlah, mungkin karena rasa suka saya yang berlebih pada novel ini, saya jadi tidak bisa mengetahui kelemahan dari novel ini. Mohon maaf, saya bukan orang yang mudah melihat kelemahan sesuatu, terutama novel.
Salah satu kata-kata yang paling aku sukai dari novel ini adalah: “Pengalamanku menonton sepak bola di negeri orang memberiku penghayatan yang lebih dalam tentang arti mencintai PSSI dan makna mencintai Tanah Air. Berada di antara masyarakat yang asing, nun jauh dari kampung sendiri, menyadarkanku bahwa Indonesia, bangsaku, bagaimanapun keadaannya, adalah tanah mutiara di mana aku telah dilahirkan. Indonesia adalah tangis tawaku, putih tulangku, merah darahku, dan indung nasibku. Tak ada yang lebih layak kuberikan bagi bangsaku selain cinta, dan takkan kubiarkan lagi apa pun menodai cinta itu, tidak juga karena ulah para koruptor yang merajalela, biarlah kalau tidur mereka didatangi kuntilanak sumpah pocong.”
Bagi kalian yang penggemar berat sepak bola, novel ini sangat aku rekomendasikan. Karena kisah di dalamnya adalah kisah yang menginspirasi kita untuk menggalakan patriotisme melalui sepak bola. Dan tentunya, cintai PSSI!
Mohon maaf jika pada book review kali ini masih terdapat kesalahan dan kekurangan. Terima kasih telah membaca!
Oh iya, sampe lupa. Ini ada trailer film Laskar Pelangi. Sengaja saya selipkan, siapa tau kalian yang suka sama novelnya Andrea Hirata jadi berminat buat nonton.
Catatan: Film untuk novel 'Sebelas Patriot' sampai saat ini belum ada. Jadi saya kasih trailer film Laskar Pelangi aja.


BIODATA PENULIS


0 komentar:

Posting Komentar